Berwisata di Persia (Bagian 1 – Tehran)

“Berbahaya”, “Negara embargo; Apa-apa susah”, “Hati-hati kena tipu”. Begitu banyak komentar miring dan peringatan sebelum kami berangkat. Di luar dugaan, perjalanan kami ke Tehran, Isfahan dan Shiraz, ibarat menaiki sebuah mesin waktu ke jaman kebesaran kerajaan Persia. Sebuah mesin waktu yang ditumpangi orang-orang yang ramah dan takjub melihat orang Indonesia “nyasar” ke Iran; melewati sungai, taman-taman indah dan istana-istana peninggalan raja-raja Persia.

Undangan pernikahan seorang sahabat berkebangsaan Iran di Tehran, menjadi penambah alasan keinginan kami sekeluarga untuk mengunjungi negeri yang penuh misteri ini. Tidak banyak berita yang beredar tentang Iran. Sanksi ekonomi yang diterapkan kepadanya, selain melemahkan sendi ekonomi negara tersebut, juga membuatnya jauh dari pemberitaan media-media internasional. Namun sebagai salah satu negeri yang termasuk dalam jalan sutera, yang kaya akan sejarah dan budaya; Iran, merupakan incaran para traveller.

 

Tehran
Saya tiba di Tehran pada tengah malam sehingga saya hanya sempat menikmati perjalanan ke hotel dalam remang cahaya lampu. Esoknya saya disambut kota Tehran dengan gedung-gedung berwarna krem yang dikelilingi bukit, ramai dengan pejalan kaki yang rapi jali dan taksi-taksi kuning di sudut-sudut jalan. Iran termasuk negara dengan empat musim, bahkan ada salju di Tehran ketika musim dingin. Udara pagi di awal bulan Mei yang masih sejuk sisa musim dingin membuat saya sedikit menggigil.

Saya sekeluarga ditemani oleh Mohammad, seorang teman yang bekerja sebagai pegawai negeri di Tehran. Hari itu dia merangkap sebagai pemandu wisata dan juga juru tawar-menawar. Kilas balik sejarah Persia saya awali dengan Golestan Palace, sebuah istana yang didirikan pada dinasti Safavid abad ke-15. Istana ini kemudian dipugar pada abad ke-18 oleh Mohammad Khan dari dinasti Qajar yang memindahkan pusat pemerintahan ke Tehran. Letaknya sungguh strategis di tengah kota Tehran, berdampingan dengan Shahr Park, dan tak jauh dari Tehran Grand Bazaar. Dari luar pagar, Golestan Palace tidak seperti sebuah istana, tetapi semakin dekat melangkah, terlihat bangunan megah dengan dinding penuh hiasan keramik bermotif bunga mawar dan teras bagian tengah gedungnya dihiasi ornamen dari pecahan cermin yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk pola-pola simetris yang indah dipandang. Di teras tersebut terdapat singgasana raja terbuat dari marmer yang megah yang dahulu digunakan untuk upacara pengangkatan raja. Takht e Marmar, yang dalam Bahasa Indonesia mempunyai arti yang mirip.

Berjalan di pelataran Golestan palace dengan Mohammed, teman kami.

Berjalan di pelataran Golestan palace dengan Mohammed, teman kami.

Golestan1

Sudut Golestan Palace, yang berhias tegel keramik berwarna.

Nama Golestan berarti Tanah Bunga Mawar. Gol adalah mawar dan Stan berarti tanah atau tempat. Bagian yang paling menarik dari istana ini menurut saya adalah teras Karim Khan. Di sini konon Shah Nasser al Din, raja dinasti Qajar yang paling dihormati, sering menghabiskan waktu untuk menyendiri dan berpikir. Di sini pula makam marmer Shah Nasser al Din diletakkan. Di dalam istana, yang sekarang menjadi museum, ditampilkan perabotan, lukisan, dan artifak dari jaman Qajar (1785-1925) yang sebagian besar merupakan hadiah dari kerajaan-kerajaan Eropa, China, dan Rusia. Karena besarnya kerajaan Persia, setiap kontingen dagang ataupun pemerintahan yang melewati Tehran selalu singgah di Golestan dan memberikan cinderamata khas negara atau kerajaan masing-masing. Cindera mata tersebut masih tersimpang dengan rapi hingga sekarang. Ruangan yang paling terkenal adalah Mirror Hall. Sesuai namanya seluruh dinding ruangan ini tertutup dengan kerajinan cermin (mirrorworks) karya Sanie Al-Mulk. Sayangnya pengunjung tidak diperbolehkan mendokumentasikan isi istana.

Di luar istana ada photo booth kecil untuk berfoto a la Shah dan keluarganya; dengan konstum dan aksesoris kerajaan. Bahkan kumis palsu pun disediakan, meskipun setelah terpasang bentuknya lebih mirip ulat bulu yang bertengger di atas bibir suami saya. Tidak jauh dari situ ada kafe kecil dan saya menikmati minum es karamel sambil menikmati keindahan taman istana dan mengkhayal andaikan saya masih hidup di masa itu dan tinggal di istana megah ini.

Berpose dengan kostum a la Shah Iran

Berpose dengan kostum a la Shah Iran

Sebelum pulang ke hotel, saya masuk ke Tehran Grand Bazaar. Pasar yang paling besar di Tehran. Luas sekali, dengan lorong-lorong yang kalau dijumlah jaraknya mencapai 10 kilometer. Bisa tersesat kalau berjalan di sana sendirian. Meski besar dan padat pengunjung penduduk lokal, Tehran Grand Bazaar. Layaknya sebuah pasar, semua dijual di sini dan terkelompok dengan teratur. Ada bagian pasar yang menjual kain, ada juga seksi lain yang menjual baju jadi, kardus bingkisan hingga bumbu masakan (spices). Grand Bazaar ini memiliki atap (indoor) sehingga saat hujan pengunjung dan pedagang tidak basah. Di sini saya tidak menemui banyak penjual souvenir khas Iran, kecuali karpet. Sebelum pulang teman saya mentraktir jus melon yang dingin, yang oleh teman saya ludes hanya dengan beberapa teguk habis, sementara saya harus berlama-lama menghabiskannya karena tak tahan dingin esnya. Rupanya orang Iran suka dan terbiasa minum jus buah dingin, terlihat di setiap sudut pasar terdapat penjual jus dengan blender yang besar-besar.

Foto dari jembatan penyeberangan, dalam perjalanan menuju bazar.

Foto dari jembatan penyeberangan, dalam perjalanan menuju bazar.

Suasana di luar Tehran Grand Bazaar

Suasana di luar Tehran Grand Bazaar

Suasana di dalam Tehran Grand Bazaar

Suasana di dalam Tehran Grand Bazaar

Teman saya bilang tidak perlu khawatir tentang souvenir, nanti dia akan membawa saya ke Vilas Street dimana yang sepanjang lajur jalannya dipenuhi oleh toko-toko souvenir dari kerajinan keramik, gelas hingga emas.

Salah satu toko suvenir yang ada di Vilas Street. Harga bisa ditawar.

Salah satu toko suvenir yang ada di Vilas Street. Harga bisa ditawar.

Perjalanan sejarah selanjutnya, saya menuju ke ke kompleks Sa’adabad Palace, kediaman dinasti Pahlavi (1925-1979) yang merupakan dinasti terakhir kerajaan Iran sebelum revolusi Iran. Letaknya di bukit berdekatan dengan kediaman resmi kepresidenan, kompleks istana ini sangat luas, dan dikelilingi oleh taman hutan. Dari gerbang menuju istana utamanya saja, harus berjalan jauh sekitar 1 kilometer, tetapi lumayan jadi bisa menikmati udara segar dan pohon-pohon rindang. Taman ini kini dibuka untuk umum dan penduduk Tehran, sering datang membeli tiket masuk hanya untuk menikmati taman Sa’adabad Palace. Penduduk Tehran sangat menyukai taman. Mereka datang naik mobil pribadi, bus, taksi ke berbagai taman yang ada di Tehran, termasuk ke Sa’adabad Palace.

Shah sangat bangga dengan kemiliterannya. Patung military boot ini dibuat atas kebanggaannya akan militer Iran.

Shah sangat bangga dengan kemiliterannya. Patung military boot ini dibuat atas kebanggaannya akan militer Iran.

Sa’adbad adalah sebuah kompleks yang memiliki 18 istana; 7 diantaranya telah diubah menjadi museum. Untuk masuk ke tiap museum, harus membeli tiket. Atas rekomendasi Mohammad, kami masuk ke Istana Putih (White Palace) dan kami mengunjungi juga museum mobil kerajaan (Royal Cars) yang cukup menghibur kedua anak saya yang masih berumur 5 dan 7 tahun.

White Palace merupakan kediaman Shah Reza dan Shah Mohammad Reza, pada saat mereka masih menjabat sebagai raja. Dari luar, gedung yang berwarna putih ini tidak seperti istana, lebih mirip sebuah gedung pertemuan besar yang memiliki teras besar dengan pilar-pilar kecil dan tangga undakan yang cukup tinggi untuk mencapainya. Hari itu Sa’adabad Palace cukup ramai pengunjung. Sebagian besar adalah wisatawan lokal. Sebelum memasuki White Palace, saya dicegat beberapa siswa SMP yang sedang melakukan kunjungan studi. Mereka jarang sekali melihat orang Asia Timur, yang bermata sipit seperti saya. Sambil mempraktikan kemampuan bahasa Inggris, mereka kemudian malu-malu meminta foto bersama. Ini tidak terjadi sekali saja, penduduk Iran begitu ramah menyapa dan diakhiri meminta group selfie.

– Hi. Where are you from? China?
No. I’m from Indonesia
– What do you think about Iran? Do you like it?
Yes I do, very much. You have a beautiful country.
– Thank you. Welcome to Iran.

Pelajar SMP di Tehran, begitu ramah menyapa dan bertanya.

Pelajar SMP di Tehran, begitu ramah menyapa dan bertanya.

Itu kira-kira percakapan baku saat bertemu dengan warga Tehran. Dalam sehari, ini tidak hanya sekali-dua kali. Berkali-kali dan setiap hari ada saja yang menyapa. Mereka tidak berusaha menjual dagangan, tidak juga menawarkan taksi. Mereka genuinely ingin tahu pendapat kita tentang Tehran dan begitu ramah.

Setelah ditinggal teman-teman kecil dari Iran tadi, saya pun kembali menyelami White Palace. White Palace memiliki dua lantai dan sebuah lantai bawah tanah. Terdapat banyak ruangan-ruangan di dalam nya, kita tidak dapat masuk ke dalam ruangan tersebut, tetapi hanya melihat dari sekat kaca. Ruangan-ruangan tersebut antara lain adalah ruangan makan, ruangan tidur Ratu Fara Diba (permaisuri Shah Mohammad Reza), dan beberapa ruangan seremonial dan penerimaan tamu, yang semuanya ditata persis seperti pada saat dihuni oleh Shah Mohammad Reza dan keluarganya (1940-1979). Perabotan, lukisan-lukisan indah karya pelukis Iran atau mancanegara, karpet-karpet indah Iran dan banyak artifak yang menghiasi White Palace masih terlihat sangat terawat. Mata saya tertuju pada meja Marie Antoinnette yang dipajang di sebuah ruangan tidur. Meja klasik dari yang dihadiahkan kepada Shah. Saya bayangkan pasti meja itu sering dipakai untuk membaca dan menulis surat atau bahkan menulis diary.

Ruang Studi dan Baca di Saadabad Palace.

Ruang Studi dan Baca di Saadabad Palace. Meja yang dulu pernah dipakai oleh Marie Antoinette.

 

Ruang makan yang terakhir digunakan untuk menjamu Charles de Gaulle.

Ruang makan yang terakhir digunakan untuk menjamu Charles de Gaulle.

Dengan tinggal di Saadabad Palace, dikelilingi taman hutan yang indah, seperti membuat jarak antara Shah Mohammad Reza dengan rakyatnya di luar pagar kerajaan. Kedekatan keluarga kerajaan dengan komunitas barat (Eropa) juga membuat banyak musuh dari dalam negeri bagi dinasti Pahlavi. Saadabad Palace, jadi saksi bisu kejatuhan dinasti Pahlavi yang tidak bertahan lama.

Keesokan harinya, saya sedikit bersantai dan ingin menikmati sisi lain dari Tehran yaitu sisi modernnya. Harus dipahami bahwa Iran dikenai sanksi ekonomi oleh dunia selama satu dekade. Semua infrastruktur yang mereka bangun adalah hasil upaya sendiri. Tehran mempunyai jalan-jalan tol yang lebar, kereta MRT (metro) dan busway untuk membantu mobilitas warganya. Pagi itu kami jalan ke halte lalu naik bus dari depan hotel menuju jembatan Tabiat (Nature Bridge) yang baru diresmikan tahun 2014 lalu. Di dalam bus, laki-laki masuk melalui pintu depan dan perempuan lewat pintu belakang. Di dalam bus tempat duduk wanita dan pria terpisah. Tidak ada sekat pemisah hanya ada tiang dan besi pemisah di antaranya. Saya yang berdiri di tiang pemisah masih bisa mengobrol dengan suami, tanpa harus merasa terganggu jika ada pria yang mau keluar. Bagi yang berpasangan paling strategis memang mengambil tempat dekat tiang pemisah, kalau tidak ya harus janjian nanti turun di halte yang mana.

Kota Tehran dipandang dari Nature Bridge

Kota Tehran dipandang dari Nature Bridge

Sampai di halte terdekat kami berjalan sekitar 1 kilometer menuju Jembatan Tabiat. Jembatan ini merupakan jembatan pejalan kaki terbesar yang pernah saya datangi. Terdiri dari 3 tingkat, jembatan Tabiat menghubungkan dua taman besar di kota Tehran, Taman Taleghani dan Taman Abo Atosh, dengan pemandangan kota Tehran dan jalan bebas hambatan di bawahnya. Di jembatan ini ada tempat untuk duduk bersantai, ada juga kafe yang menjual makanan dan minuman. Bersih sekali, tidak ada sampah bertebaran. Mohammad menceritakan bahwa jembatani ini dirancang oleh Leila Araghian, seorang arsitek perempuan. Luar biasa.

Malam hari nya kami bersiap menghadiri resepsi pernikahan Ali, sahabat kami. Resepsinya diadakan di sebuah taman cantik sedikit di pinggir kota Tehran. Acara resepsi kira-kira menghabiskan waktu 7 jam, di mulai dari jam 6 sore sampai jam 1 dini hari. Dimulai dengan acara seremonial pembacaan doa, pembacaan Al Qur’an oleh kedua mempelai hingga pemberian nasihat dari perwakilan kantor agama. Kemudian penyerahan hadiah dari kerabat dekat dalam bentuk keeping emas atau perhiasan. Setelah selesai, acara bebas seperti layaknya acara resepsi di Indonesia. Bedanya kedua mempelai jalan menyapa tamu yang duduk di meja satu per satu sembari bercanda dan berfoto. Makan malam baru dihidangkan jam 11 malam. Tapi penantian memang tidak sia-sia karena menu hidangannya luar biasa lezatnya. Berbagai kebab dan masakan sayuran khas Iran dengan beberapa pilihan nasi. Warga Iran adalah penggemar teh, jadi tentu saja ada kedai teh di resepsi pernikahan ini dimana kita bisa duduk santai minum teh dengan gula batu (rock sugar).

Bukan, itu bukan makam. Ini adalah bagian dari dekorasi pernikahan di Iran. Di belakang ada dua bangku untuk mempelai yang akan membaca penggalan Al Qur'an sebagai bagian dari upacara pernikahan.

Bukan, itu bukan makam. Ini adalah bagian dari dekorasi pernikahan di Iran. Di belakang ada dua bangku untuk mempelai yang akan membaca penggalan Al Qur’an sebagai bagian dari upacara pernikahan.

Kami minta saran pada Mohammad tentang hiking. Kami ingin jalan-jalan ke atas bukit melihat pemandangan sembari duduk dan menikmati keindahan kota Tehran. Ada dua tempat yang kami baca, yaitu Darband dan Tochal. Darband tempatnya tidak jauh dari Sa’adabad Palace dan sepanjang jalan ke atas penuh dengan restoran, penjual selai dan berbagai kerajinan. Sedangkan Tochal adalah gunung dimana kita bisa naik dengan jalan kaki atau naik cable car atau kombinasi keduanya. Mohammad menjawab, “Kenapa tidak kita coba keduanya?”

Di Darband, sepanjang jalan pendakian, kanan dan kiri dipenuhi restoran, dihiasi aliran sungai dan beberapa air terjun kecil.

Di Darband, sepanjang jalan pendakian, kanan dan kiri dipenuhi restoran, dihiasi aliran sungai dan beberapa air terjun kecil.

 

Selai buatan rumah, berbagai rasa dijajakan di Darband.

Selai buatan rumah, berbagai rasa dijajakan di Darband.

 

Menikmati teh hangat setelah makan siang, dengan Nabat (gula batu).

Menikmati teh hangat setelah makan siang, dengan Nabat (gula batu).

Suasana di Darband begitu hidup. Restoran dicat dengan warna-warna yang cerah dihiasi lampu-lampu berwarna-warni. Kami berjalan ke atas dan sempat berhenti di sebuah restoran di samping air terjun kecil. Indah sekali. Saya pesan Kebab Kubideh (daging kambing yang dibakar) dengan nasi saffron. Minuman favorit saya di sana adalah Doogh (baca: Dukh) yaitu susu fermentasi (yoghurt) yang dicampur garam dan daun mint kering. Lalu kami turun kembali ke bawah dan mencari taksi. Taksi di Tehran tidak dilengkapi dengan argometer, sehingga Mohammad harus menawar dan menyepakati harga sebelum kita berangkat. Kalau tidak, sesampainya di tujuan bisa-bisa kita dipukul harga mahal. Naiklah kami ke taksi butut, tapi sampai kembali ke hotel dan beristirahat.

Telecabin yang sudah cukup tua umurnya, membawa penumpang naik sampai ke Stasiun 5.

Telecabin yang sudah cukup tua umurnya, membawa penumpang naik sampai ke Stasiun 5.

 

Mendaki Tochal, di stasiun ke-5 setelah naik Telecabin selama 20 menit.

Mendaki Tochal, di stasiun ke-5 setelah naik Telecabin selama 20 menit.

Hari terakhir di Tehran, kami pergi hiking di Gunung Tochal. Pada musim dingin, Gunung Tochal ini ramai pengunjung yang akan bermain ski atau snowboarding. Ski di Iran? Iyaa, Iran adalah negara 4 musim. Jadi pada musim dingin, di Iran juga turun salju. Karena kami berkunjung di ujung musim dingin, sehingga salju hanya terdapat di ujung-ujung gunung Tochal. Menuju ke atas, terdapat cable car atau telecabin sepanjang 12 km. Kami jalan dari tempat parker menuju ke stasiun 2. Ini berarti jalan kaki 2 kilometer. Dari stasiun 2 ke stasiun 5 saya naik telecabin. Saya tidak bisa naik sampai stasiun 7 karena stasiun tersebut hanya diperbolehkan untuk pengunjung yang akan bermain ski. Di Tochal kami jalan-jalan di atas dan kedua anak saya mengambil 2 keping batu sebagai memento (kenang-kenangan).
Baca juga:
Bagian 2 – Isfahan
Bagian 3 – Shiraz