The Sushi Story

Arida dan saya sama-sama penggemar berat Sushi. Makanan Jepang yang satu ini selalu jadi salah satu tujuan setiap kali saya pulang kampung ke Jakarta.

Saya banyak menjumpai teman yang belum pernah mencoba Sushi. Sebagian yakin gak bakalan suka karena ikannya mentah, sebagian lagi bilang gak nendang karena kecil-kecil, harganya mahal lagi. Tapi yang paling nyeleneh adalah, ada teman yang belum pernah coba karena gak pede sebab gak tau tatacara makan di resto Jepang : )

Sedikit tentang Sushi
Kata “Sushi” itu sendiri berasal dari bahasa Jepang. “Su” yang berarti cuka (vinegar) dan “Shi” yang berarti nasi. Sehingga kalau digabung: Sushi = “Nasi bercuka” :) Namun makna sebenarnya, sushi adalah ikan (bisa mentah, bisa masak) yang diletakkan di atas sepetak nasi (tebal antara 2-4 cm). Wah susah juga jelasinnya ya. Pake gambar aja deh:

nigirisushi makisushi temakisushi

Nigiri-sushi Maki-sushi Temaki-sushi

Sushi ini adalah jenis yang paling umum disajikan di resto-resto Jepang. Nigiri sushi yang bentuknya panjang-panjang biasanya hanya terdiri dari nasi dan ikan, kadang diikat dengan rumput laut (atau “Nori”). Maki-sushi atau “roll” mirip roti gulung, tapi adonannya adalah nasi dan isinya bukan selai. Tergantung jenis maki yang dipesan, isinya bisa bermacam-maca, dari ikan salmon sampai udang dan belut, dari ketimun sampai alpukat. Bagian luarnya dibungkus juga dengan nori. Yang terakhir, temaki-sushi sebenarnya nasi juga, tapi dibentuk seperti corong, dan di atasnya dilapisi topping sesuai pesanan.

Oke, dari awal deh… kalo masuk resto Jepang gimana?

Kalau kita masuk ke resto Jepang, biasanya kita akan disambut dengan ucapan “Irasshaimase…!”. Terkadang ucapan bahkan diteriakkan oleh semua waiter dan juru masak yang ada di sana (bersahutan). Sampai gaduh suasananya. Jangan kuwatir dan jangan kabur. Itu hanya ucapan “Selamat Datang”. Biasanya kita tidak perlu membalas ucapan itu, cukup tersenyum dan waiter akan bertanya “berapa orang?”. Di resto Jepang, customer biasanya diantarkan ke meja yang tersedia.

Kalo itu resto sushi beneran, maka biasanya ada sushi bar. Bentuknya seperti bar minuman, tapi ada etalase yang berisi sushi yang sudah disiapkan oleh Itamae (juru masak sushi). Kalau ada yang kita suka, langsung ambil saja. Sayangnya sushi bar tidak selalu lengkap. Terkadang sushi yang kita inginkan tidak ada di etalasenya (bisa jadi belum dibuat, atau sudah habis). Kita selalu bisa pesan langsung kepada itamae. Ingat. Bila kita duduk di sushi bar, jangan pesan selain sushi kepada itamae. Kalau kita mau pesan yang lain (teriyaki, udon, dll) bisa lewat waiternya, karena ada dapur tersendiri untuk itu. Kalaumales di sushi bar, kita juga bisa minta untuk diantarkan ke meja.

Kalau kami berdua lebih enjoy di Sushi bar karena bisa melihat action para itamae, dan melihat sushi yang berputar-putar mengelilingi bar. Lebih menyenangkan dan lebih memberikan pengalaman.

Makannya pake sumpit ya? Ada sausnya?

Iya pakai sumpit. Walaupun sangat aneh, beberapa kali saya melihat ada orang yang makan sushi pakai garpu. Nigiri sushi dan maki bisa dimakan langsung pakai tangan, tapi tidak untuk sashimi.

Tergantung selera, kita bisa makan sushi pakai “shoya” (kecap). Umumnya hanya disediakan kecap asin yang encer. Tapi kalau resto Jepang di Indonesia sebagian menyediakan kecap manis juga. Sebelum dimakan sushi dicelupkan ke kecap tadi. Untuk yang suka pedas, biasanya ada cabe bubuk (chilli powder), atau kalau ingin yang lebih kuat, ada juga wasabi (horseradish khas Jepang yang khas banget dan pedesnya amit-amit).

Jangan celupkan nasi ke shoyu; celupkan ikannya. Nasi bisa menyerap kecap dan bisa hancur dan susah disumpit. Rasa sushi sendiri juga akan rusak kalau nasi dicelupkan ke kecap.

Makan sushi, khususnya nigiri atau maki yang kecil, biasanya satu kali lahap. Tapi kalau kira-kira kebesaran, ya tidak perlu memaksakan diri untuk melahapnya sekaligus.

Kalau sumpit tidak digunakan lagi, jangan taruh sumpit di atas meja. Biasanya ada tempat penopang sumpit yang disediakan. Tapi seandainya tidak ada, letakkan di atas piring shoyu (kecap).

Oya, ada satu lagi yang biasa tersedia di meja, yaitu “Giri” atau jahe. Biasanya berwarna merah muda dan dalam irisan tipis-tipis. Rasanya kuat sekali. Jahe ini tidak untuk dimakan bersamaan dengan sushi, tapi untuk dimakan sebelum kita melahap sushi berikutnya. Tujuannya untuk menetralisir lidah, supaya sensasi masing-masing sushi dapat dirasakan oleh kita seenak mungkin (tidak tercampur rasa sushi sebelumnya).

Trus pesen minumnya apa?

Minuman standar di resto Jepang adalah Ocha (teh hijau). Bisa panas, bisa juga dingin. Terkadang malah ocha ini sifatnya complementary alias gratis. Ocha ini pahit, jadi jangan kaget. Ada juga sih sebenarnya teh hijau yang manis, nama minumannya “Maccha” (baca: macha). Biasanya tersedia juga minuman lain dari jus sampai sake.

Wah, ternyata sushinya gak enak! Gimana dong?

Jangan sampai salah pesan. Kalau kurang jelas tentang menunya, tanya dulu sama waiternya. Banyak sekali sushi yang tidak eneg, menggunakan ikan/udang/belut/kepiting yang sudah dimasak. Tapi kalau ternyata tetap gak doyan ya coba aja menu lain. Masih banyak sekali menu makanan Jepang yang lebih cocok untuk lidah Indonesia.

Oya, makanan seperti apa?

Banyak. Kita bisa pesan teriyaki, daging dimasak bumbu kecap. Kalau ingin porsi nasi yang besar, ada hidangan “Don” yaitu nasi semangkuk yang diatasnya dilengkapi dengan pilihan daging, seperti Unagi-don (Belut teriyaki –> ini enak banget); atau bisa juga Gindara-don. Gindara adalah jenis ikan yang dagingnya putih dan lembut banget, dan kulitnya renyah setelah dimasak. Kalau ingin mie, ada beberapa pilihan “ramen” dan “udon”. Yang pertama kaya mie keriting kecil-kecil, dan yang kedua mie nya tebal dan besar. Ada juga chicken/beef katsu, sepotong daging ayam/sapi yang dibalut dengan tepung dan telur lalu digoreng; disajikan dengan salad dan nasi.

Wah! Harganya kok mahal?

Sayangnya… bahkan di negara asalnya pun, sushi termasuk makanan yang mahal. Harganya bisa berkisar antara Rp.6.000 – Rp. 40.000 per piring. Setiap jenis sushi harganya berbeda, maki yang satu pun harganya bisa berbeda dengan maki lainnya. Biasanya setiap hidangan sushi di sushi bar sudah ditandai harganya, dengan metode warna piring. Piring paling murah biasanya warnanya muda (putih, biru muda, pink, hijau muda), lalu semakin tua warnanya semakin mahal harganya (merah, hitam). Paling mahal biasanya piring yang warnanya emas, atau piring bercorak/bermotif. Jangan kuwatir, kalau gak yakin, biasanya ada kamus warna piring di buku menu.

Oleh karena itu, kalau datang ke sushi bar dalam keadaan lapar berat, lebih baik memesan satu entree (don, udon, etc) yang nendang dan mengenyangkan lalu makan sushi secukupnya/semampunya.

Makan Sushi yang enak dimana ya?

Kalau di Jakarta, kami sudah mencoba beberapa tempat; tapi sampai sekarang yang tetap menjadi favorit kami adalah Sushi Tei. Langganan kami yang cabang Pondok Indah Mall 2. Sushi bar mereka hebat, pilihan sushinya banyak. Sushinya relatif besar (kadang kalau sushi terlalu kecil, suka bikin emosi), dan harganya juga tidak mahal sekali. Porsi entree-nya juga besar; dan yang paling penting adalah rasanya enak. Nasi nya lembut dan tidak terlalu lengket, ikannya segar dan enak sekali.

Kalau saya paling suka makan ikan salmon, Arida lebih suka udang dan belut.

Kalau Anda? Selamat Mencoba! :)

*pics taken without permission from http://www.sushifaq.com

Comments 2

  1. Arida April 16, 2008
  2. D May 2, 2008

Leave a Reply

CommentLuv badge