Praja Muda Karana

Pramuka tak kenal rintangan
Meski jalan penuh halangan
‘Kan hilang di dalam hati yang riang
Pramuka tak kenal rintangan

Saya pernah ikut Pramuka di Inggris selama kurang lebih dua tahun. Mulai dari latihan mingguan, sampai kemah selama seminggu semasa liburan musim gugur. Latihan mingguan selalu diawali dengan permainan “British Bulldog”. Pramuka di sana benar-benar sukarela dan lepas dari sekolah sehingga pesertanya tidak sebanyak latihan Pramuka rutin di Indonesia. Biasanya setiap latihan ada 15-20 orang, latihannya pun malam hari dimulai jam 07:00 malam dan selesai jam 09:00 malam. Kenapa British Bulldog, karena permainan ini membuat semua peserta “melek”, detak jantung tinggi, tingkat kewaspadaan tinggi – semacam pemanasan lah untuk mengikuti latihan selanjutnya. Latihan berikutnya seringnya outdoor; kadang panjat/ turun tebing, belajar navigasi darat kecil-kecilan berbekal peta, lampu senter dan kompas bidik di hutan dekat Scout Hut; kadang juga uji ketangkasan seperti berenang (di kolam renang umum) untuk mendapatkan badge kecakapan berenang.

Di Indonesia, saya juga ikut Pramuka. Sejak menjadi anggota Siaga Barung Biru, Penggalang Regu Banteng hingga Penegak dan Pandega. Kalau melihat ke belakang hari-hari di Pramuka penuh dengan kesan dan pelajaran. Pengalaman di Pramuka sedikit banyak membentuk kepribadian saya. Di sana saya banyak belajar, bermain dan bekerjasama dengan semua orang. Memahami kebiasaan dan budaya/ agama lain melalui permainan dan kegiatan alam jauh lebih efektif daripada kita melakukan 1.000 dialog antar agama. Saya yakin itu. Masukkan 5 agama, 5 suku dalam satu regu. Lepas mereka ke hutan, berikan tiap hari berbagai rintangan dan masalah untuk dipecahkan bersama. Dalam waktu seminggu saja, mereka akan berisak tangis saat akan berpisah. True story. 

Pada saat reformasi tahun 1998 terjadi polarisasi luar biasa khususnya terhadap etnis Tionghoa. Saya ingat tahun 2000an kami mengadakan kemah pembauran. Kemah pembauran ini diikuti oleh pelajar dari berbagai suku, sekolah dan juga organisasi (tidak semua anggota Pramuka). Pada waktu itu saya menjadi fasilitator dalam perkemahan tersebut. Lalu apa kegiatannya? Karena perumus kegiatannya adalah Pramuka, tentu tidak ada upaya pembauran melalui cara-cara formal seperti dialog dan sebagainya. Semua dikemas dengan kegiatan yang fun dan menantang. Tujuan dari pembauran adalah bukan untuk saling memahami perbedaan/ persamaan masing-masing kelompok; melainkan untuk menegaskan bahwa ada nilai yang jauh lebih besar dari sebatas warna kulit, bahasa dan berbagai hal kesukuan lainnya. Nilai kemanusiaan, universalitas. Saat diberikan kegiatan kompetitif, setiap anggota regu bahu-membahu berusaha untuk menang. Kemenangan bersama. Di akhir perkemahan juga luar biasa keharuan yang ada saat itu. Lepas sudah semua atribut individu. Harapan kami semoga masing-masing peserta akan selalu ingat kegiatan tersebut. Teman yang mereka temui di kegiatan tersebut, yang berbeda warna kulit, agama dan suku. Sehingga bila suatu saat nanti dia dihadapkan pada situasi yang provokatif untuk membenci Islam misalnya, “si Paulus” akan ingat pada “si Ahmad” yang dulu dia temui di perkemahan ini – bagaimana mereka saling membantu dan berbagai kesan yang mereka bangun bersama.

Saya percaya efek domino – bagaimana situasi buruk bisa berkembang begitu cepat dan menyebar seperti api menyambar tumpahan bensin. Tapi sebaliknya saya percaya juga efek domino itu bisa diredam oleh satu orang. Satu orang saja yang menghentikan penyebaran kebencian, maka pesan itu berhenti di sana. 10 orang saja yang memutuskan tidak meng-klik “Share” atas berita yang provokatif, maka berkurang orang yang akan membaca.


Gerakan Sosial VS Kewirausahaan Sosial

Pramuka adalah gerakan. Dia bukan “sekolah”, “pelatihan” apalagi “lembaga sosial” (meskipun banyak melakukan kegiatan sosial). Bukan hanya di Indonesia, sejak lahirnya dulu Lord Boden Powell sudah mencanangkannya sebagai sebuah gerakan. Karena dia tidak boleh statis, selalu berubah dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tetap berlandaskan prinsip ketuhanan dan kemanusiaan. Kegiatan-kegiatan latihan rutin, hingga jambore harus terus dikembangkan supaya relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai positif yang ingin disampaikan. Tentu saja semua itu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Di Indonesia (dan di banyak negara lain), gerakan sosial tidak lagi populer dan menarik bagi para donor. Meskipun bersifat sukarela, sebuah gerakan tetap membutuhkan pendanaan. Sayangnya sekarang ini sebagian besar dana dari donor individu ataupun korporasi lebih banyak disumbangkan ke lembaga kewirausahaan sosial (social enterpreneurship/ social enterprise). Kewirausahaan/ enterpreneurship menuntut si usahawan untuk pandai mencari dana/ modal untuk diputar. Kata “sosial” di sini berarti dia menggerakkan dananya untuk hal-hal bersifat sosial. Manusia Indonesia secara kultural religius senang membantu sesama. Lembaga-lembaga seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat Indonesia adalah contoh social enterprise. Dana yang terkumpul banyak, donor datang dari berbagai penjuru dunia dan digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial. Lembaga asing pun banyak, seperti Greenpeace hingga lembaga PBB seperti UNICEF akan lebih menarik daripada mendanai gerakan sosial seperti Gerakan Pramuka.

Social enterprise dijalankan ibarat sebuah perusahaan; selain berbagai perangkat operasional (ketua, bendahara, kegiatan, kesekretariatan) ada juga bagian yang sangat penting yaitu sales/ pemburu donor dan ada bagian komunikasi publik yang jauh melebihi fungsi “humas” tradisional. Komunikasi mereka menyentuh segala usia, berbagai media mulai konvensional sampai media sosial elektronik. Pesan yang disampaikan pun disesuaikan dengan audiens. Untuk melakukan donasi, mereka bekerjasama dengan berbagai portal pembayaran mulai dari Mastercard, Visa hingga Paypal. Satu klik di komputer, Anda bisa menyumbang ke lembaga tersebut. Dari segi donor korporasi, mereka tidak mencari donor untuk satu kegiatan lalu istirahat lagi. Mereka mencari partner. Orang-orang dan lembaga-lembaga yang mau berkolaborasi jangka panjang untuk menjalankan proyek-proyek jangka panjang. Lihatlah program Superqurban misalnya yang mencakup pengadaan sapi kurban, pemotongan, pengalengan hingga penyaluran. Rantai yang luar biasa lengkap dan program yang berkesinambungan.

Gerakan Pramuka perlu mengadopsi cara-cara social enterprises dalam hal kewirausahaan. Komunikasi publik juga penting. Banyak sekali kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan oleh Pramuka tapi tidak terpublikasi dengan baik. Humas tradisional adalah dibuatnya sebuah divisi yang terus-menerus mempublikasi foto-foto kegiatan, foto sambutan Gubernur, foto Pramuka berlatih, foto Pramuka mengatur lalu lintas. Humas yang lebih modern adalah humas yang dilakukan oleh publik yang sistematis dan terkoordinasi. Saat ini bila sebuah gerakan ramai di media sosial, dia akan diangkat menjadi berita. Sebagian mungkin menganggap ini adalah hal yang trivial, tidak penting. Mungkin benar, tapi perusahaan mana yang tidak melakukan strategi sosial media dalam melakukan kampanye/ promosi mereka. Promosi itu perlu – dan Pramuka itu kegiatan yang bagus dengan filosofi yang mulia; apa salahnya kalau kita lebih bangga dan lebih agresif berpromosi?


Some Things Should Stay The Same

Meskipun Gerakan Pramuka dituntut untuk terus berubah; tentu harus tetap ada hal-hal yang konsisten. Konsistensi dalam membina generasi muda dan tidak terjebak pada kapitalisme alias rebutan uang harus tetap terjaga. Aspek inklusifitas Gerakan Pramuka, yang merangkul semua jenis manusia di Indonesia juga harus tetap terjaga. Tidak ada diskriminasi, tidak ada berat sebelah. Semua sama, semua bergembira. Sudah 54 tahun Gerakan Pramuka berdiri di Indonesia, terlepas dari berbagai stigma yang melekat padanya; saya berharap Gerakan Pramuka terus konsisten menekankan nilai-nilai universalitas melalui kegiatan-kegiatan positif. Di tengah zaman yang penuh kesimpangsiuran informasi, penuh godaan untuk mengambil jalan pintas, penuh provokasi untuk saling memusuhi, pada akhirnya sangat penting bagi Indonesia untuk mencetak individu yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; cinta alam dan menyayangi sesama manusia; menjadi patriot yang sopan dan juga kesatria; patuh pada aturan dan suka bermusyawarah; rela menolong sesama dan tabah dalam menghadapi cobaan; mencetak anak-anak muda yang rajin, terampil dan gembira; melahirkan pekerja dan pengusaha yang hemat, cermat dan bersahaja; membiasakan warga negara untuk disiplin, berani dan juga setia; melahirkan anak-anak muda yang bertanggungjawab dan dapat dipercaya; dan yang paling penting menjadi manusia yang selalu berusaha untuk suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Selamat Hari Pramuka! Terus Memandu!