Menyikapi Kasus Ahok: Empati dan Simplifikasi

Mungkin salah satu life skills yang ingin sekali bisa saya ajarkan pada anak-anak saya adalah empati. Yaitu kemampuan mereka untuk sejenak menahan diri, mundur selangkah ke belakang dan mencoba memahami kenapa orang lain mempunyai pendapat yang berbeda dengan diri kita. Lalu menghormati sikap dan pendapat tersebut tanpa dirongrong nafsu untuk mengubah pendapat orang lain.

Perbedaan opini terkadang bisa membuat sebuah kelompok terpecah menjadi dua, tiga golongan. Dikotakkan. Rusaknya hubungan pertemanan, persaudaraan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan opini yang diikuti dengan rasa keputusasaan, atau frustrasi yang akhirnya membuat kita mengambil pendekatan atau jurus pamungkas “paint everyone with the same brush”. Kita lukis mereka semua yang berbeda pendapat, dengan label “bodoh”, “kurang belajar agama”, “beda ideologi”, ”kurang piknik”, “Liberal”, “Ateis” atau yang lainnya.

Opini seseorang menjadi begitu sakralnya sehingga seolah-olah satu opini itu bisa mewakili seluruh aspek manusiawi orang tersebut. Serangan terhadap opini, dianggap serangan fundamental terhadap diri pribadi atau golongan. Inilah yang membuat rusaknya hubungan sesama manusia.

Look, saya tidak ingin memaksa masing-masing dari kita untuk selalu seragam dalam pola rasa atau pola pikir. Tapi menurut saya hidup ini akan jauh lebih ringan bila kita semua bisa menerima 3 kenyataan ini:

  • Setiap orang berhak untuk mengemukakan pendapatnya. Pendapat itu bukan fakta. Pendapat itu tidak ada yang mutlak benar atau salah. Pendapat adalah pendapat
  • Anda berhak menilai bahwa pendapat orang lain itu bodoh, orang lain pun berhak menilai pendapat Anda bodoh. Setiap pendapat yang Anda kemukakan, pasti ada yang setuju, pasti ada yang tidak setuju. Bila pendapat Anda diserang, bukan berarti pribadi Anda diserang. Bila Anda menyerang pendapat orang, jangan melebar ke aspek pribadi orang tersebut
  • Sekeras apapun Anda mencoba, Anda tidak akan bisa memaksa semua orang untuk menerima pendapat Anda

Perbedaan pendapatlah yang membuat hidup ini menarik. Perbedaan pendapat memicu munculnya berbagai ciptaan/ invention dan ilmu pengetahuan. Perbedaan pendapat memicu munculnya berbagai kreasi seni, dari film layar lebar hingga meme yang kesemuanya membuat kita semua tertawa kecil.

Perbedaan pendapat terjadi juga dalam interpretasi ayat-ayat suci kitab agama. Seheboh apapun, perdebatan yang kita saksikan sekarang ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Di masa lampau, kalau tidak di sini, ya di tempat lain. Dan itulah keindahan dari religious scripture. Terkadang ada lebih dari satu cara menginterpretasikan dan pada akhirnya tidak ada yang memaksa kita selaku pemeluk agama, untuk menganut hanya satu cara. Lalu kenapa tidak ada konsensus atau kesepakatan bersama? Ya karena seperti saya sebutkan di atas, sekeras apapun Anda mencoba, tidak akan bisa semua orang di dunia setuju dengan pendapat Anda.

Kebiasaan berempati juga bisa menjadi refleks yang menjadi pengendali perbuatan kita. Andaikan Ahok sedikit saja berempati sebelum dia mengeluarkan statement kontroversial tersebut, maka mungkin kegaduhan ini tidak terjadi. Andaikan umat yang tersakiti hatinya sedikit berempati kepada keluarga Ahok (istri dan anak-anaknya), maka nafsu penjeblosan ke penjara, penghakiman secara sosial melalui berbagai media massa dan media sosial mungkin tidak harus sebesar ini. Proses hukum telah berjalan, mari kita bijak dan bersabar. Entahlah, itu menurut pendapat saya.

 

Mari Hindari Simplifikasi

Simplifikasi menurut saya menjadi permasalahan di masyarakat kita. Simplifikasi yang saya maksud adalah mengambil jalan pintas untuk memukul rata sekelompok orang yang berbeda pendapat. Banyak yang gerah sekali dengan lantang dan kerasnya para juru bicara Front Pembela Islam. Banyak juga yang tidak terima dengan pernyataan (opini) Ahok. Mereka semua berhak mengekspresikan pendapat. Apakah Anda boleh menolak pendapat tersebut? Tentu boleh dan tidak ada yang memaksa Anda untuk menerima pendapat manapun. Anda adalah insan yang merdeka dan berhak membangun opini Anda sendiri.

Yang menurut saya “kurang pas” adalah bila kemudian kita secara mudah mengatakan “semua kegiatan FPI itu bodoh”. Mirip seperti opini “semua yang ikut demo 411 itu dibayar”. Itu menurut saya simplifikasi.

Di spektrum argumen yang lain, saya juga melihat ada opini, “suara FPI adalah suara umat Islam”, “semua yang demo tanggal 4 November itu murni panggilan hati. Tidak ada yang dibayar”. Ini juga simplifikasi, karena tidak ada yang tahu pasti. Hanya opini. Pembantu kawan saya minta ijin cuti karena ditawari 250 ribu plus makan siang plus bis gratis untuk ikut. Saya juga punya teman, yang secara mantap mengatakan dia ingin ikut berupaya menjebloskan Ahok ke penjara dan menggagalkannya menjadi gubernur. Ini politis. Tapi tidak sedikit juga teman saya yang datang karena memang terpanggil. Dia naik angkot bayar sendiri, bawa bekal sendiri dan bergabung dengan rombongan demo. Lalu tentang FPI, siapapun saya rasa tidak bisa mengklaim bahwa FPI mewakili sikap seluruh umat Islam di Indonesia, apalagi di dunia. Tidak semua orang sama.

Di beberapa kesempatan ada juga yang berpendapat, “akhir-akhir ini saya lihat teman-teman non-Islam, semakin menyudutkan orang Islam”. Pertanyaan saya, teman Non-Islam yang mana? Dari sekitar 30 juta penduduk Indonesia yang memeluk agama Non-Islam, teman yang mana yang dimaksud? Dari sekitar 210 juta orang Islam di Indonesia, yang mana yang merasa disudutkan? Menulis statement seperti itu, justru menurut saya memperuncing konflik. Saya sebagai bagian dari umat Islam secara umum tidak merasa disudutkan. Saya tetap menjalani hidup sehari-hari, beribadah tanpa beban, berinteraksi dengan sesama rekan kerja dengan berbagai agama, berkarya sesuai dengan kapasitas saya.

Inilah maksud saya, marilah kita berhenti mensimplifikasi, memukul rata semua orang. Karena masing-masing dari kita adalah unik – jangan disamaratakan. Saya punya dua anak laki-laki. Dibesarkan di lingkungan yang sama, sekolah di tempat yang sama, mengaji pada guru yang sama, makan masakan yang sama. Tapi kadang keduanya memiliki pendapat dan sikap yang sangat berbeda atas suatu masalah. Perbedaan pendapat bukanlah akhir dunia. Yang penting adalah memberi ruang bagi keduanya untuk bisa menjelaskan kenapa dia memiliki pendapat tersebut. Selanjutnya kembali ke kemauan kita untuk berempati, mendengar dan menjadi orang yang lebih besar, untuk menerima perbedaan.

Suatu hari nanti saat anak-anak kita sudah besar, bukan tidak mungkin mereka berbeda pendapat dengan kita, para orangtua. Saat itu terjadi, para orangtua bisa dipastikan akan mudah untuk menerima dengan senyum. Kenapa? Karena kita bisa berempati, kita mau berempati karena mereka adalah anak-anak kita. Harapan saya, anak-anak kita pun nantinya tumbuh sebagai pribadi yang bisa menerima perbedaan pendapat, mampu berempati kepada orangtuanya yang (mungkin) sudah ketinggalan zaman. “Kebo nusu gudel” – demikian pepatah orang Jawa, yang artinya orangtua pada akhirnya meminta perlindungan dan pengetahuan dari anak-anaknya yang lebih muda.

 

Mari Menjaga Kebersamaan

Mari (terus) belajar berempati. Menahan diri dari simplifikasi – jangan sampai ini menjadi refleks dan kebiasaan. Kita sama-sama paham bahwa dimensi manusia sangatlah kompleks, jauh lebih dalam dari yang kita pandang sehari-hari. Dimensi hati lebih dalam lagi dan bukanlah ranah (domain) manusia untuk menilai. Dimensi hati hanya bisa dipahami oleh seorang individu dengan Tuhannya. Mari kita hormati dan tidak kita usik hubungan tersebut dengan berbagai label, apalagi penghakiman.

Sudah berabad-abad, manusia hidup berdampingan. Kita belajar dari sejarah bahwa setiap upaya penyeragaman atau unjuk superioritas golongan tertentu, apalagi dengan cara kekerasan – sulit sekali dilakukan. Mari ajarkan cara-cara yang baik dalam mengemukakan pendapat, menyanggah pendapat. Kita ajarkan bahwa perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang tidak dapat dihindari. Kita ajarkan bahwa bahkan dengan berbagai perbedaan ini, kita semua bisa hidup berdampingan dengan harmonis dalam kebhinnekaan. Demi keutuhan kerukunan kita, demi peradaban yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita nanti.

Comments 2

  1. Astrid November 22, 2016
    • Arief November 22, 2016