Mencintai Indonesia, bukan Pemerintah Indonesia

Pertama-tama Selamat Hari Kemerdekaan saya ucapkan kepada semua teman-teman warga negara Indonesia. Selamat bukan karena saya dan generasi saya berhasil merebut kemerdekaan, apalagi ikut berjuang angkat senjata; tapi sekedar ikut meneruskan pekik kegembiraan para pahlawan Indonesia yang gugur dan mungkin tidak sempat menikmati udara bebas, indahnya bisa membaca dan mempelajari banyak hal tentang dunia; menikmati mudahnya mengangkat telepon untuk berbicara dengan orang tersayang, hingga merasakan kerasnya persaingan mencari kerja dan nikmatnya berdebat di forum-forum online atau media sosial.

Mari sejenak kita kesampingkan berbagai artikel dan status satire yang mengecilkan arti kemerdekaan. “Masih merdeka kok impor daging?”, “Masih merdeka kok bertekuk pada Cina, Freeport?” dan lain sebagainya. Kemerdekaan sebaiknya bukan sesuatu yang kita remehkan apalagi kita cemooh. Saya belum pernah merasakan tinggal di negara yang terjajah oleh negara lain. Saya bersyukur.

Tapi saya juga cukup sedih karena sepertinya kita ini terbelah. Kadar terbelahnya bermacam-macam, dari yang memendam ketidaksetujuan dalam hati; hingga mengekspresikan ketidaksetujuan secara vokal bahkan fisik. Ada yang berpendapat bahwa kita terpecah menjadi dua golongan, yang pro dan anti-pemerintah. Tapi menurut saya, selain kedua golongan tersebut ada beberapa kelompok lain:

  1. Kelompok apatis yang tidak peduli
  2. Kelompok “yang penting substansi, bukan sensasi”
  3. Kelompok orang-orang yang tidak senang dikelompokkan :)
  4. Mungkin ada kelompok marginal lain yang ngotot tidak masuk kategori di atas

Hidup kita itu tidak hitam dan putih. Begitu pula politik. Anda diperbolehkan untuk mencoblos PDI-P, tapi pada saat yang bersamaan alergi dengan Ibu Megawati atau Menteri Puan Maharani. Anda boleh mencoblos PKS tapi tidak mengamini praktik poligami pejabat teras mereka. Anda boleh jadi pegawai negeri yang harus mengeksekusi program pemerintah, tapi pada saat yang bersamaan Anda melihat ada ketidakberesan dalam pelaksanaan program – anda boleh protes, boleh juga diam. Anda boleh mencoblos Jokowi sembari khawatir apakah dia bisa mengemban amanah. Anda juga boleh benci Presiden Jokowi yang plonga-plongo, tapi sembari beristighfar dan berdoa semoga Tuhan memberikan kekuatan kepadanya untuk amanah terhadap kekuasaan yang dipercayakan kepadanya. Bila Anda melakukan itu, bukan berarti Anda plin-plan apalagi munafik; karena memang politik itu tidak hitam-putih. Ingat bahwa diri Anda bukanlah orang yang Anda pilih. Mereka adalah mereka; Anda adalah Anda. Anda 100% boleh melakukan semua hal di atas.

Sebagai anak bangsa yang harus kita pahami bersama adalah kita sangat boleh mencintai Indonesia tanpa harus mencintai pemerintah. Tidak setuju kepada pemerintah bukan berarti tidak cinta kepada Indonesia, bukan pula berarti lebih cinta dibading para pendukung. You are free. Anda bebas, anda merdeka. Merdeka untuk berpikir, belajar dan memutuskan hal-hal yang penting untuk Anda. Terlepas dari berita hoax dan menghasut yang banyak beredar; sebenarnya berbagai kritik dan pembelaan yang ada (kalau kita mau) adalah sarana belajar. Belajar untuk memahami dari berbagai sudut pandang. Belajar untuk berbeda pendapat. Hanya saja yang saya harapkan adalah kita ini tidak terpecah, tidak menganggap setiap perbedaan sebagai hitam-putih nya seorang manusia yang final dan tidak mungkin berubah. Andai dulu para pejuang Indonesia terjebak di perbedaan pendapat, tidak akan bisa kita bersatu. Andai dulu para pahlawan berkutat pada golongan mereka masing-masing tanpa melihat ke depan, tidak mungkin Indonesia lahir. Musuh bersama kita adalah kebodohan, kemiskinan dan hasil dari ketidakadilan.

Mari kita isi kemerdekaan dengan bekerja dan berdoa. Mungkin terdengar klise, tapi tidak apalah toh cuma satu hari ini.

Semoga Tuhan meridhoi.

Merdeka!