Aug 30
“Maaf” ternyata sungguh kata yang sulit untuk diucapkan. Lihatlah kasus pemukulan wasit Indonesia oleh oknum polisi Malaysia. Saya sendiri tidak tahu kenapa kok bisa Pak Donald itu dipukuli, tapi yang jelas rakyat DPR Indonesia menuntut Malaysia untuk meminta maaf atas pemukulan tersebut. Menlu Malaysia lalu memberikan pernyataan “deeply regret” (sangat menyesal), yang ditolak “setengah-mentah” oleh rakyat DPR Indonesia. Saya heran, kenapa bukan polisi nya ya yang dituntut meminta maaf ke Pak Donald?
Jangankan dalam hubungan antar negara; dalam keluarga pun terkadang sulit sekali untuk meminta maaf. Bapak Ibu saya dulu selalu bilang, “yang besar mengalah, dan meminta maaf duluan”; kalo orang Jawa beda lagi, “sing waras ngalah” (yang berpikiran sehat, mengalah). Mengalah kata Bapak, bukan berarti kalah. Tapi di setiap pertengkaran, kalau kata Ibu, harus disudahi dengan permintaan maaf; dan pemberian maaf oleh satu sama lain. Ini di keluarga saya.
Read the rest of this entry »
Aug 19
Hari ini setahun yang lalu….

19 Agustus 2006. Pukul 08.30 pagi, kami menikah. Aku di depan Pak penghulu, dan Arida di dalam ruangan tertutup (dalam Adat Jawa, calon suami dan istri terpisah).
19 Agustus 2007. Pukul 08.30 pagi. Arida di Indonesia, dan aku di Laut Kaspia. Hehehe… terpisah lagi :)
Tapi alhamdulillah di hati selalu dekat :P
Selamat Ulang Tahun Pernikahan, istriku. Peluk cium untuk Li’l Azka.
Jun 22

Mengelola keuangan rumah tangga itu gampang-gampang susah, dan seringnya lebih condong ke susah :) Dibutuhkan kesepakatan-kesepakatan yang kadang perlu waktu. Setelah kesepakatan tercapai, sama-sama harus melakukan pengendalian. Pertanyaan pertama dan yang paling penting sebelum mengelola uang rumah tangga adalah, “Milik siapa uang masing-masing?” Apakah milik sendiri-sendiri, ataukah menjadi milik bersama; ataukah “Milikmu adalah milikku; tapi milikku tetap milikku”. Masing-masing ada baik dan buruknya dan setiap pasangan/ keluarga mempunyai cara yang unik; kami pun memiliki cara mengelola keuangan.
Read the rest of this entry »
Jun 15
Sudah 2 minggu ini Arida tidak di apartemen ini. Dia harus pergi ke Indonesia, karena kandungannya yang semakin besar. Rencana semula memang mau melahirkan di sini, di Ashgabat. Tapi yah… begitulah Ashgabat, tidak ada satupun (skali lagi, SATUPUN) ginekolog/ dokter kandungan di sini yang bisa berbahasa Inggris (hasil survey di 2 RS Internasional terbesar di Ashgabat). Walhasil, setiap kali kita periksa, harus bawa translator. Susah banget untuk bisa berdiskusi seputar kehamilan. Akhirnya untuk kebaikan bersama kita putuskan untuk kembali ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, kita periksa di RSPI dengan dr. Bramundito (promosi dikit, but he’s a good doctor), dan lega rasanya bisa ngobrol2 lama tentang si bayi.
Setelah make sure semua baik-baik saja, aku balik lagi ke Ashgabat. Kembali ke apartemen ini. Arida memang tidak ada di sini, tapi rasanya dia tidak jauh-jauh amat. Arida is a like walking reminder, kaya alarm yang selalu nge-buzz kalo udah tiba waktunya, atau ada yg terlupakan. Bahkan saat dia sudah pergi pun, “alarm” nya masih dimana-mana:
Read the rest of this entry »
Recent Comments