Time out for safety!

Arief, Blogging Add comments

Hidup dalam “rasa aman” termasuk kemewahan bagi sebagian orang. Coba, berapa kali Anda harus meremas kursi atau paha Anda (atau mungkin, paha pasangan Anda) saat naik angkot, gara-gara si Pak sopir menghindari kendaraan lain yang nyelonong atau sekedar mengerem mendadak untuk menurunkan penumpang.

Saat naik kereta api, pernahkah Anda terpaksa turun di tengah perjalanan gara-gara rel kereta anjlok, atau jalurnya terendam banjir? Saat akan booking tiket pesawat, pernahkah Anda terpikir “gile… gak ada satu pun maskapai di Indonesia yang akhir-akhir ini bebas dari kecelakaan”.

Keselamatan publik (public safety) digagas untuk melindungi publik dari peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan dan bisa membahayakan orang banyak. Itulah kenapa mobil dilengkapi dengan seatbelt; setiap pesawat akan take-off, selalu diperagakan cara mengenakan sabuk dan jaket pelampung. Dulu saat masih ngantor di Sudirman, setiap 6 bulan sekali, selalu diadakan fire drill atau latihan respon kebakaran.  Tujuannya untuk menguji setiap perangkat berfungsi sebagai mana mestinya, dan setiap orang yang terlibat paham peran dan tugasnya masing-masing.

Keselamatan publik adalah tanggungjawab publik

Keselamatan publik tidak semata-mata menjadi tanggungjawab legislator dan pemerintah, namun juga tanggungjawab publik itu sendiri, sebagai pihak yang akan dilindungi. Bahkan menurut saya, peranan terbesar dalam meningkatkan keselamatan umum adalah masyarakat itu sendiri.

Mari kita sejenak letakkan (bukan lupakan) kepercayaan bahwa “Hidup mati di tangan Tuhan”, dan tengok kecelakaan-kecelakaan yang sering terjadi. Sebagian besar kecelakaan adalah karena faktor manusia. Situ Gintung jebol karena kegagalan struktur dan kelalaian dalam melakukan perawatan. Kereta Gumarang anjlok karena rel kereta api digergaji. Dan baru-baru ini saya merasa geram mendengar peristiwa robohnya sebuah lantai di Plasa Simpang Lima Semarang.

Menurut saya ketidakseriusan pihak yang bertanggungjawab (a.k.a pemerintah dan penyedia jasa) dalam memberikan pelayanan dan juga memastikan kelayakan kondisi mendasari insiden yang terjadi.

Program Insentif

Kebutuhan sebagian besar dari kita (maaf, diakui atau tidak) adalah uang, atau hal lain yang ujung-ujungnya menghasilkan uang. Which is, menurut saya “sah-sah saja”. Namun orang-orang yang bekerja di perusahaan tersebut harus tahu bahwa kualitas pekerjaan mereka, berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup orang banyak. Sayangnya, bagian yang bertanggungjawab untuk melakukan pengecekan berkala biasanya termasuk kalangan yang berada di bagian bawah piramida perusahaan; yang (tidak semua, tapi) umumnya berpenghasilan rendah.

Seharusnya perusahaan yang melek safety semakin menyadari ini dan memulai pendekatan lain. Untuk setiap pegawai yang menunjukkan komitmen dan sikap baik dalam hal keselamatan kerja, sebaiknya perusahaan memberikan insentif (uang/ bonus) kepada mereka. Ini dikenal dengan employee safety insentive program. Pemerintah pun sama, untuk perusahaan yang menunjukkan komitmen yang baik dalam hal keselamatan publik (adanya inspeksi dan fire drill berkala, safety audit dlsb), seharusnya mendapatkan insentif tertentu dari pemerintah.

Namun demikian, saya tidak mengatakan bahwa keselamatan publik hanya bisa dimajukan dengan program “bagi-bagi duit”, hanya saja itu merupakan salah satu trigger yang efektif untuk memotivasi dalam berperilaku aman.

Take it local

Mulailah di keluarga Anda, berusahalah untuk safety-oriented. Ajarkanlah kepada anak-anak Anda untuk peka terhadap potensi kecelakaan yang bisa terjadi di keluarga Anda (kompor, tangga, rayap, paku, besi berkarat, pisau, dll.) lalu ajaklah mereka untuk memperbaiki kualitas keamanan di rumah. Bila anak Anda menemukan sebuah hazard yang bisa membahayakan dan dia berhasil memperbaiki kondisinya berikanlah dia hadiah kecil. Biasakanlah untuk ngobrol dengan pasangan dan anak-anak anda tentang keselamatan di lingkungan keluarga. Time-out for safety !

Ditulis untuk menyemarakkan posting serempak “Peduli Keselamatan Publik” by Loenpia.Net

15 Responses to “Time out for safety!”

  1. Niffo Says:

    Setelah mulai dari keluarga, mungkin dari SD udah dikasih pengetahuan untuk ini ya mas…

  2. mardee Says:

    ya memang sudah seharusnya tempat2 umum itu lebih diperhatikan perawatannya..

  3. didut Says:

    dan saya msh merasa was was ketika menaiki angkutan umum jarak jauh

  4. starboard Says:

    waktu smu suatu kebanggaan sendiri naik angkutan sambil gelantungan di pintu :D

  5. -Lie- Says:

    Ahhh lebih enak naik kereta ekonomi jarang mogok. Naik kereta Executive sering mogok sekarang. *Ra nyambung yo

  6. wiwikwae Says:

    klo aku takut klo pahaku diremas orang disebelahku mas.

  7. Mimin Says:

    Saya suka kata melek safety hihihi….

  8. fahmi Says:

    wah wah,,,,kerren artikel nya,,,
    kalo menang musti makan makan ki,,,:o

  9. el_afiq Says:

    dari kita oleh kita untuk kita
    nyambung ra yo?

  10. fahmi Says:

    uRAG NYAMBUNG fiq…
    Bahahaaha

  11. ceznez Says:

    klo saya mo mulai dari kekasih ahhh :)

  12. tunggul Says:

    Bila anak Anda menemukan sebuah hazard yang bisa membahayakan..

    Ajari dia untuk mengirim RIR? hehehe

    Wahahahaha… gawat nih Tunggul udah di-doktrin sama Rina jugak!

  13. novpras aka k1n6k0n9 Says:

    weleh seandainya sejak kecil dah di kasih tau bisa aja tuh… hidup kita nyaman

  14. casual cutie Says:

    tempat umum kan milik bersama, sudah selayaknya kita jaga bersama. selama ini kita kurang memperhatikan

  15. escoret Says:

    iki blogge ono sing due ra tho..?????

    kok sue ra post.>???

Leave a Reply

2007 | The Prasetyos | Theme modified from Glossy Blue Theme | Powered by Wordpress
Entries RSS Comments RSS