Kolik pada Bayi

Memang benar kata orang, kelahiran bayi bukanlah akhir perjuangan (setelah mengandung 9 bulan), namun justru permulaan. Ya, hari-hari pertama kelahiran Azka memang penuh dengan sleepless nights, namun penuh dengan hal-hal baru. Karena Arida cukup disibukkan dengan menyusui dan mengganti popok Azka, maka untuk sementara ini dokumentasi hal-hal baru tersebut akan dilakukan oleh bapaknya Azka.

Salah satu pelajaran utama yang kami petik dalam 2 minggu pertama adalah “selalu percayai naluri/instinct Anda”. Memang, bayi hanya bisa menangis, tapi somehow, sebenarnya kita bisa merasakan apakah tangisan tersebut karena haus, risih, atau kesakitan. Dan instinct inilah yang membuat kami berkenalan dengan Kolik/Colic pada bayi.

Apa itu Kolik? Dan apa penyebabnya?
Kolik berasal dari kata dalam bahasa Yunani, kolikos, yang berarti usus. Selama lebih dari 50 tahun, ilmuwan dan dokter berusaha mencari penyebab kolik, tapi belum ditemukan secara pasti penyebabnya. Kolik berhubungan dengan ketidakmampuan sistem pencernaan bayi untuk mengurai makanannya.

Bagaimana Ciri-cirinya?
Di sinilah instinct berperan. Lama-kelamaan, kami merasa bahwa Azka menangis karena kesakitan. Ini ditandai dengan:

  • Tangisan yang lebih keras daripada biasanya, dan susah sekali didiamkan
  • Saat menangis, dia juga meringkuk; menggenggam tangannya, dan menarik kedua kakinya ke perut
  • Mukanya yang memerah, saat ia menangis atau menggeliat
  • Selalu ingin minum. Baru saja diberikan ASI, dan bahkan sambungan susu formula, tapi tetap saja kemudian menangis lagi minta minum.

Apakah bayi yang diberikan susu formula lebih rentan dibanding ASI?
Tidak selalu. Memang ada kemungkinan usus bayi menjadi peka terhadap susu formula (baca: susu sapi), tapi bayi yang diberi ASI pun bisa terkena kolik. Pada bayi dengan ASI, kolik bisa terjadi karena makanan yang dikonsumsi ibunya, lalu masuk ke bayi melalui ASI. Ibu yang menyusui sangat tidak dianjurkan untuk meminum susu sapi, atau makanan-makanan seperti kubis, kembang kol, brokoli, makanan pedas, cokelat (yap, cokelat) dan juga minuman yang mengandung caffeine dan alkohol.

Apakah bayi kesakitan karena kolik?
Bayi yang terkena kolik, memang sedang merasa tidak nyaman. Namun demikian, sebagian besar dokter mengatakan bahwa “penderitaan” orang tua yang melihat anaknya menangis terus, lebih besar dibandingkan dengan rasa sakit yang dirasakan bayi itu sendiri. Kolik bisa bertahan sampai usia bayi 3-4 bulan (sampai sistem pencernaannya kuat), tapi yang pasti kolik akan hilang. Dan kolik tidak mengganggu pertambahan berat badan pada bayi.

Apa yang harus kita lakukan?

  • Pergi ke dokter, pastikan bahwa memang ini kolik, ceritakan semua gejala-gejalanya, dilengkapi dengan keterangan penting lain seperti (frekuensi minum, ASI/formula, frekuensi buang air besar, dll)
  • Kurangi volume minum, tapi perbanyak frekuensi. Lebih baik sering minum, tapi sedikit-sedikit. Ini untuk memperingan fungsi saluran pencernaan bayi yang belum terlalu kuat. Memang, bayi akan selalu menangis dan haus. Haus dikarenakan zat asam yang naik ke kerongkongannya yang membuatnya merasa panas dan ingin minum.
  • Setiap selesai minum, usahakan bayi tersebut bersendawa. Ada banyak teknik untuk membuat bayi bersendawa, namun karena Azka masih berumur 2 minggu, yang biasa kami lakukan adalah menggendongnya dengan posisi memeluk di dada, satu tangan menyangga pantatnya, dan tangan lain memegang dan menepuk-nepuk punggungnya. Tempelkan kepala bayi di dada.
  • Saat bayi menangis dan meringkuk, jangan baringkan dia. Ambil lah posisi duduk yang nyaman, lalu pangkulah bayi, sehingga dia juga duduk di pangkuan, dan menghadap ke Ibu/Bapaknya. Posisi duduk, otomatis akan menekan perutnya dan membuat dia merasa lebih nyaman.
  • Hentikan dulu berjemur di pagi hari (masih belum tahu apa hubungannya dengan kolik, tapi ini salah satu yang disarankan oleh dokter kami).

Kami mempunyai buku yang cukup handal untuk dijadikan pegangan. Judulnya “The Baby Book”, karya Dr. Jim dan Martha Sears. Bukunya tebal dan mengandung informasi yang lengkap hingga bayi berusia 2 tahun. Penulis buku ini juga mempunyai website yang mempunyai bejibun informasi tentang bayi dan anak-anak, bisa dikunjungi di sini.

Artikel terkait:

CC BY-SA 4.0
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Comments 8

  1. aries August 7, 2007
  2. Adhi Laksono August 10, 2007
  3. gratio November 30, 2008
  4. arief December 1, 2008
  5. Fika December 4, 2008
  6. maya January 26, 2009
  7. uun May 16, 2009
  8. hah January 27, 2011

Leave a Reply

CommentLuv badge